things i learn (so far)

Sekitar lima tahun saya bekerja sebagai desainer grafis, dan lebih memfokuskan diri kepada satu disiplin yang cukup sulit, yaitu memposisikan diri sebagai typeface designer, hal tersebut saya dedikasikan ketika saya sudah lulus kuliah, karena saya belum menemukan jalan yang dirasa saya sukai sampai akhirnya, saya tidak lulus mata kuliah tipografi (pfft…ironic). Dan karena tipografi pula yang menyebabkan saya menempuh jenjang perkuliahan lebih lama satu tahun, dalam arti lain mengulang dan menunggu hingga tahun depan pada saat itu.

Setelah itu saya merasa bersalah, berdosa, dan ingin menebus dosa saya tersebut, hingga akhirnya saya harus belajar lagi dan lagi melalui referensi yang secukupnya, bermodalkan artikel di internet, dan beberapa buku dasar, saya dipertemukan kembali dan belajar dari nol lagi tentang tipografi sampai akhirnya saya bisa dan yakin bahwa tipografi adalah disiplin yang saya suka dan saya tekuni.

Singkat cerita saya mulai terarik untuk merancang typeface, karena typeface adalah sesuatu yang kita lihat sehari-hari, mulai dari bangun tidur hingga kita mau tidur lagi 24/7. Pertama kali saya merancang typeface mungkin tidak sebagus dengan “new comer” yang lakukan dan publikasikan saat ini. Struktur yang salah dan bentuk yang aneh. Hingga pada akhirnya proses yang cukup panjang lah yang membuat saya seperti ini, meskipun saya masih dalam tahap pembelajaran, namun apa yang saya kerjakan setidaknya memberikan pengaruh pada rekan-rekan ataupun desainer grafis lainnya untuk menekuni disiplin ini khususnya di Indonesia.

Okay, setelah melalui proses tersebut saya mulai membiasakan diri dengan mengkaji apa yang telah saya pelajari, hingga beberapa waktu yang lalu pun saya sempat mengajar meskipun hanya jadi sekedar dosen tamu di beberapa kampus negeri dan swasta di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, keinginan saya menjadi dosen tetap harus di kesampingkan dulu karena perihal teknis akademisi dimana saya belum bisa memenuhi target tersebut (By the way, saya hanya lulusan D3). Singkat cerita tersebut yang akhirnya mendorong saya untuk menulis beberapa hal yang saya pelajari selama ini, apa yang saya tulis ini jangan dijadikan tolak ukur bahwa harus seperti ini, namun bisa memberikan pandangan khusus untuk tahap pembelajaran kedepannya.

things i learn as (type) designer?

1. Ide

Tipografi dan desain huruf didasarkan antara keinginan untuk menemukan identitas dan orisinalitas dalam setiap tugas khusus, semisal saya ingin lebih cantik, saya ingin lebih klasik, artistik dan karakteristik hingga proses tanggapan lainnya. Desain huruf tidak pernah padam dari dulu hingga sekarang masih selalu berkembang seiring dengan berkembangnya tehnologi dan trend yang berlaku. Hal tersebut berlaku juga pada ide yang akan kita susun, dan hal tersebut harus disiapkan secara mendalam, tapi tidak dipungkiri lagi bahwa apa yang saya lakukan adalah mengadaptasi dari karya yang sudah ada menjadi sesuatu yang otentik serta bisa digunakan “There is nothing new under the sun” jangan takut karya yang akan dibuat terlihat sama dengan ini, dengan itu, kecuali memang merubah karya yang sudah ada atau sekedar menghiasnya.

2. Metode = Konsep

Belajar menggambar huruf cukup sulit karena banyak hal yang ingin membuat kita lebih dan lebih baik lagi, mulai dari bentuk yang kadang tidak sama, proporsi yang tidak sesuai, dan hal-hal lainnya, tapi belajar membuat typeface sedikit berbeda dari hal tersebut, dimana hanya dibutuhkan kejelian untuk menentukan karakter utama dan sisanya akan banyak karakter repetitif yang tentunya harus di sesuaikan. Typefaces adalah salah satu alat bagi desainer grafis atau siapapun pelaku yang menggunakan huruf sebagai pondasi utamanya, yang paling penting; mereka bisa menentukan sesuai atau tidaknya komunikasi visual secara tepat sasaran. Ada banyak cara untuk membuat suatu typeface, tentunya sebelum memulai dengan font software seperti Glyphs App yang sering saya gunakan, ada beragam cara lain seperti menggunakan pensil tipis, broad nip, brush, dan lainnya, hal itu hanyalah konsep belaka, cara yang kita gunakan akan menjadi landasan dasar bentuk typeface tersebut menjadi memiliki nyawa, terkadang ada pula yang langsung menggambar digital pada font software atau program grafis lainnya. Karena yang menjadi pertimbangan utama adalah bentuk, komposisi, gaya visual, dan konteks yang diusung.

3. Tantangan

Sebuah pertanyaan mendasar dalam disiplin apapun, apa tantangannya? Satu hal yang paling penting menurut pandangan saya sendiri yaitu konsistensi dan alur. Kenapa? Karena dua hal tersebut akan berbuah hasil yang cukup baik bila kita menjalaninya dengan sabar dan lebih menghargai suatu proses dibanding hasil akhir, kejelian dan keselarasan antar proporsi, antar karakter, dan hubungan satu karakter demi karater. Intinya, dari sudut pandang saya, “Know the basic, and the rest will follow“, karena realita nya kita juga belajar merangkak dulu sebelum berlari? Am I right?

4. Detil & Ekspresif

Bayangkan jika suatu typeface merupakan seseorang yang anda cintai, yang anda kagumi, dan sosok tersebut adalah sesorang yang anda lihat sehari-hari, tentunya anda akan melihat lebih detil bagaimana cara dia berpakaian, paras wajahnya, hingga sikap dan ekspresi yang ditunjukan dikala situasi apapun. Hal tersebut berlaku pada sebuah typeface, detil dan ekspresi yang akan dibuat dan dibayangkan. Pada akhirnya, untuk membuat typeface yang baik, Anda perlu mempelajari contoh yang baik lainnya.  Mempelajari dengan cara yang efektif, dari perspektif fungsional dan nilai historis akan membantu anda memahami alasan utama merancang desain typeface tersebut. Namun typeface design bukan hanya sekedar itu melainkan anda harus menjadi diri anda sendiri, dengan secara ekspresif namun masih tetap mengacu pada dasar-dasar nilai dari aturan yang berlaku.

Kira-kira hal itu yang bisa saya ceritakan saat ini, semoga bisa menambah sudut pandang lain terhadap disiplin type design ini. Let me know if there is any errors!